Brotowali
Brotowali atau
akar aliali adalah tanaman obat tradsional Indonesia yang biasa ditanam di
pekarangan atau tumbuh liar dihutan. Batangnya sangat pahit dan biasanya
digunakan sebagai obat rematik, mengurangi gula darah, menurunkan panas, dan
membantu mengurangi gejala kencingmanis, tanaman ini juga biasa digunakan
sebagai tanaman hias.
A.
Klasifikasi Tanaman
Kingdom: Plantae (tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (tumbuhan berkeping dua/dikotil)
Sub Kelas: Magnolidae
Ordo: Ranunculales
Famili: Menispermaceae
Genus: Tinospora
Spesies: Tinospora Crispa (L)
B.
Nama-nama Lain Brotowali
Nama
latin: tinospora crispa (L.) Miers ex Hoff.f
Sinonim:
tinospora rumphii, tinospora tuberculata
Nama
lokal: Indonesia:bratawali,
jawa:brotowali atau daun gedel,
melayu: putrawali, sunda:andawali,Bali dan Nusa
Tenggara:antawali.
C. Morfologi dan Anatomi Tanaman
Tumbuhan
ini menyukai tempat panas, merupakan tanaman semak perdu yang hidup didaerah
sekitar pekarangan dan juga hidup liar disekitar hutan. Tanaman ini mempunyai
tinggi batang sampai 2,5 meter yang besarnya sama dengan jari kelingking,
dengan struktur batang tanaman yang berbintil-bintil rapat. Daun tanaman
brotowali tunggal dan bertangkai, berbentuk seperti hati dan kadang-kadang juga
agak bundar seperti telur dengan ujung daun lancip yang memiliki panjang 7-12
cm dan lebar daun 5-10 cm. Bunga tanaman brotowali berwarna hijau muda dan juga
budidaya tanaman brotowali ini dengan cara stek pada batangnya.
D. Tempat Tumbuh
Brotowali
yang dikenal sebagai tanaman obat ini berasal dari Asia Tenggara. Wilayah
penyebarannya di Asia Tenggara cukup luas, meliputi wilayah Cina, semenanjung
Melayu, Filipina, dan Indonesia. Brotowali merupakan tanaman merambat dan
tumbuh dengan baik di hutan terbuka atau semak belukar di daerah tropis.
E. Kandungan Kimia
Tanaman
ini kaya akan kandungan kimia, antara lain: alkaloid, pada bagian akar dan
batang tanaman ini mengandung zat damar lunak, barberin, zat pahit pikroretin,
glikosida, palmatin dan harsa.
F. Kegunaan dan Khasiat bagi Kesehatan
Terdapat
dua bagian tanaman brotowali yang paling sering digunakan untuk mengobati
penyakit dalam ataupun luar. Kedua bagian tersebut adalah batang dan daunny,
tapi tidak jarang juga akar dari brotowali dimanfaatkan untuk kepentingan lain.
Di
Indo-Cina semua bagian tumbuh-tumbuhan dari brotowali dipakai sebagai obat
demam yang dapat menggantikan kinine.
Di
Filiphina, brotowali dianggap sebagai obat seba bisa yang dapat dipakai untuk
mengobati penyakit gila, dan berkhasiat sebagai kina.
Di
Bali batangnya dipakai sebagai obat sakit perut, demam dan sakit kuning, bahkan
sebagai obat gosok untuk mengobati sakit pinggang dan punggung.
Sedangkan
di Jawa, air rebusannya dapat digunakan untuk mengobati demam, obat luar untuk
luka, dan gatal-gatal.
Orang-orang
yang hidup pada jaman dahulu menggunakan air hasil rebusan dari batang
brotowali untuk mencuci muka, atau mencuci luka dan reaksi yang ditimbulkan
pada kulit memang positif.
Pada
bagian kulit batang tanaman ini juga terdapat beberapa senyawa kimia seperti
alkaloid dan damar lunak berwarna kuning sedang, sementara akarnya mengandung
zat barberin dan kolumbin. Adapun fungsi dari alkaloid adalah sebagai pembunuh
bakteri pada luka akibat jatuh. Zat pahit pikroretin yang terdapat pada bagian
akar dan batang tanaman brotowali berperan sebagai perangsang kerja urat saraf
pada saluran pernapasan, dampaknya suhu tubuh yang sedang panas akan diturunkan
seiring banyak terjadinya pertukaran zat.

0 komentar:
Posting Komentar